4

June112016
INIKAH CINTA?
Saat hati dan pikiranmu ada di satu sisi yang berbeda,
Mereka terpisah.
Hatimu berkata kau mencintainya,
Sedangkan pikiranmu menolaknya.
Apa yang akan kau lakukan?

Ntah kenapa jantung Chayra berdetak lebih cepat dari biasanya ketika ia berada di dekat Yoga. Ada getaran tersendiri yang tidak dapat ia artikan. Rasanya aneh.
"Keluarga kamu asli asal Yogyakarta?" Tanya Yoga pada Chayra.
"Ibuku asli sini. Sedangkan ayahku berasal dari Malang. Tapi aku lahir di Jakarta. Sejak kecil aku juga besar di Jakarta," jawab Chayra.
"Oh ya?" Tanya Yoga antusias.
Sebelumnya ia tidak tahu bahwa Chayra tinggal di Jakarta.
"Aku juga tinggal di Jakarta. Saat ini aku sedang bekerja disini," lanjut Yoga.
"Wah, kebetulan yah? Memangnya kamu kerja apa?" Tanya Chayra.
"Iyah. Kita bisa pulang bareng nanti. Aku kerja sebagai fotografer, baru merintis minggu minggu ini, sih." Jawab Yoga santai.
"Bagus bagus bagus.. minggu depan aku juga akan pulang," gumam Chayra.
"Loh? Kuliahmu libur?" Tanya Yoga.
"Yah seperti itulah," ucap Chayra sambil tersenyum manis.
Ntah kenapa Yoga sangat menyukai senyum gadis itu. Terlebih saat gadis itu tertawa dan membuat pipinya merah merona.
Yoga tersenyum, "Baiklah. Kita bisa pulang bersama nanti. Oh, ya. Kamu mau gak jadi model aku? Cuma buat pemotretan di beberapa tempat aja kok."
Chayra mengernyitkan dahinya. "Model? Aku gak biasa berpose di hadapan orang," jawab Chayra.
"Ayolaaah Chayra. Aku bingung gak punya kenalan cewe. Nyewa model itu juga gak murah. Mau ya? Ya ya?" Bujuk Yoga sambil mengerlingkan matanya.
Chayra terkekeh, "Oke oke baiklah!"
***
Sebuah bukit yang indah menjadi sasaran Yoga untuk sesi pemotretannya. Ini adalah kali pertamanya memotret dengan model yang berpose di antara pemandangan yang terlukis indah itu.
Bukit itu tidak terlalu tinggi. Namun cukup sejuk dan indah. Beberapa pohon terlihat tumbuh didekat bukit itu. Yoga menyuruh Chayra untuk duduk di sebuah batu besar di bukit itu.
Chayra duduk dengan anggunnya diatas batu itu. Kerudung lebarnya berkibar tertiup angin. Membawa kesan yang sangat cantik. Gaun panjang berwarna merah mudanya, Chayra biarkan menjulur di bawah kakinya. Chayra sangat mengagumkan. Di tambah lagi dengan senyumnya yang selalu membuat hati Yoga bergetar.
"Chayra siap ya. Satu, dua, ti..." Yoga memulai sesi pemotretannya.
Chayra dengan sabar berpose sesuai dengan yang Yoga mau. Gaya anggunnya itu sangatlah mempesona. Ntah bagaimana allah menciptakan makhluk cantik ini.
***
"Minumlah," kata Yoga sambil menyodorkan sebuah minuman rasa Vanilla latte kepada Chayra.
"Waw, kenapa kamu tau aku suka vanilla?" Tanya Chayra sambil berbinar.
Yoga hanya terkekeh, "Chayra, selama ini aku selalu menyimpan tanda tanya besar tentangmu," ucap Yoga.
Chayra mengernyit bingung, "Tanda tanya?"
"Yah, kenapa kamu tak pernah lepas dari kerudung lebarmu itu? Bukankah banyak gadis gadis zaman sekarang yang baru melihatnya saja sudah lelah. Mereka bilang gerah." Kata Yoga.
Chayra terkekeh, "Aku suka jilbabku. Dengannya aku rasa hidup. Dan aku tidak sama dengan gadis gadis yang lain. Menurutku justru hijab ini sangat sejuk. Yah, sejuk. Karena suatu saat dia yang akan melindungiku dari api neraka." Chayra berbinar ketika mengucapkan kata-kata itu.
"Lantas, apa yang membuatmu bertahan untuk tidak melepaskan hijabmu?" Tanya Yoga lagi.
"Simple, lebih baik panas di dunia atau di akhirat?" Chayra menaikkan sebelah alisnya.
"Menurut hadist, “Wanita adalah aurat, jika dia keluar tanpa menutup aurat Setan selalu menjadikannya indah pada pandangan Laki-Laki." Yoga termenung mencerna apa yang baru saja Chayra katakan.
"Satu lagi. Satu langkah seorang anak perempuan keluar rumah tanpa menutup aurat, maka satu langkah pula ayahnya hampir ke neraka. Bisa di simpulkan, kan?" Tutur Chayra.
Yoga balas tersenyum. Ia tidak tahu bahwa gadis ini bukan hanya memiliki kesempurnaan fisik, tapi juga kesempurnaan hati. Ia selalu saja mendapat kejutan-kejutan dari gadis ini. Dia sangat membuat Yoga menggila.
***
Chayra dan Yoga pulang ke Jakarta bersama. Sekarang mereka baru saja sampai di stasiun kereta api tepat pada pukul setengah tujuh pagi.
"Mau mampir ke rumahku dulu?" Tanya Yoga.
"Baik. Tapi setelah kamu mampir ke rumahku," ucap Chayra sambil tersenyum jahil.
Chayra melangkah meninggalkan Yoga, "Hei, Nona! Tunggu aku!" Seru Yoga di belakang Chayra.
Chayra hanya terkekeh pelan sambil tetap mempertahankan posisinya tanpa berbalik ke belakang. Tak peduli dengan Yoga yang dengan susah payah mengejarnya.
Mereka sampai di depan rumah Chayra yang megah.
"Ayo masuk!" Chayra mempersilahkan Yoga untuk masuk.
Yoga membuntuti langkah Chayra. Mereka sampai di sebuah ruangan yang tenang dengan beberapa sofa juga bunga bunga hiasan yang menghias ruang itu. Yoga duduk dengan tenang.
"Assalamualaikum. Ayah! Chayra pulang!" Seru Chayra. Namun tak ada jawaban.
"Mungkin ayah sudah berangkat kerja," ucap Chayra pada Yoga.
"Chayra sayang! Kamu pulang nak?" Tiba tiba saja Yudi turun dari atas tangga dan langsung memeluk putrinya itu.
"Ayah! Chayra kira ayah sudah berangkat kerja," kata Chayra sambil tetap mempertahankan senyum termanisnya. Sudah hampir tiga bulan mereka tak bertemu setelah ayahnya mampir ke Yogyakarta tempo lalu.
"Ayah merindukanmu, nak!" Ucap Yudi sambil mengecup puncak kepala anak gadisnya itu.
"Aku juga ayah," balas Chayra.
"Kenalkan. Ini Yoga, ayah. Teman Chayra dari Yogyakarta. Tapi dia juga tinggal di Jakarta, kok." Kata Chayra memperkenalkan pria yang masih duduk itu kepada ayahnya.
"Wah, baru kali ini kamu punya temen cowok, sayang." Kata Yudi sambil tersenyum penuh arti.
Chayra hanya tersenyum kikuk di samping ayahnya.
"Saya Yoga, om. Yoga Pradipta Al-Ghibran." Yoga memperkenalkan dirinya.
Mereka berbincang sesaat. Setelahnya Yudi pamit untuk berangkat bekerja.
Chayra mengajak Yoga untuk berkeliling rumahnya. Dan Yoga terhenyak ketika mendapati foto besar yang bertengger di dinding ruang keluarga Chayra. Foto seorang lelaki tua berjas hitam dengan kacamata yang ia kenakan. Ia pernah melihat pria itu. Bukan hanya pernah. Tapi memang ada rahasia kelam antara dirinya dan pria dalam foto itu.
"Ini siapa?" Tanya Yoga sambil berusaha tenang.
"Ini kakek. Dia baru saja meninggal beberapa bulan yang lalu," ucap Chayra sambil berusaha memasang ekspresi wajah yang ceria.
Batinnya terluka. Sangat terluka mengingat kematian yang tidak wajar itu. Tapi apa boleh buat. Ia hanya bisa mengikhlaskannya. Dia yakin kakek-nya sudah tenang di alam sana. Dia yakin karena kakek-nya selalu mengajarkan yang terbaik kepadanya. Dia juga selalu taat dalam ibadahnya meskipun ia telah menjadi seseorang yang sukses.
Yoga menelan ludahnya. Dia memang tidak salah. Pria itu adalah pria yang sama yang beberapa bulan lalu pernah bertemu dengannya, sesaat sebelum ajal menjemputnya.
***
WANITA SEMPURNA
Mereka sampai di depan rumah Yoga yang sederhana.
"Ayo masuk! Maaf, rumahku sederhana." Ucap Yoga.
"Ahh, itu tidak terlalu penting menurutku. Yang penting adalah cinta dalam keluarga. Lagian jadi orang kaya itu tidak enak," terang Chayra.
Yoga tersenyum menanggapi pernyataan Chayra barusan. Chayra memang benar. Menjadi orang kaya memang tidak menyenangkan. Buktinya banyak orang yang mengincar nyawa mereka. Gumam Yoga dalam hatinya.
"Yoga, kamu pulang nak?" Kata wanita separuh baya yang ternyata adalah Nina, ibunda Yoga.
Yoga mencium punggung tangan ibunya, "Iya bu. Perkenalkan, ini Chayra. Teman Yoga," kata Yoga memperkenalkan Chayra.
"Subhanallah.. cantik sekali kamu, nak!" Chayra tersenyum menanggapi ucapan Nina.
"Gladys, kakakmu datang nak! Ayo ambil minum!" Seru Nina kepada Gladys.
"Iya bu!" Sahut seorang gadis di dapur.
Mereka berbincang sesaat.
"Ini minumnya, bu," kata Gladys sambil meletakan minuman di atas meja.
Sesaat Gladys mendongak menatap kakak-nya.
"Kenapa kakak ga bilang kalau mau pulang?" Rengek Gladys.
"Maaf, kakak cuma mau ngasih kejutan ajah, kok." Kata Yoga nyengir sambil merangkul adik kesayangannya itu.
"Kakak bawa temen kakak. Bentar ya, dia lagi di luar. Biar kakak panggil," kata Yoga sambil beranjak.
"Gladys, perkenalkan...."
Belum sempat Yoga melanjutkan perkataannya Gladys dan Chayra sudah berpelukan.
"Chayra.. sudah enam bulan kita gak ketemu. Kamu sehat?" Tanya Gladys masih memeluk Chayra.
Yoga dan Nina saling berpandangan tak mengerti.
"Ya. Aku baik. Bagaimana denganmu?" Tanya Chayra sesaat setelah melepaskan pelukannya.
"Syukurlah. Bagaimana bisa kamu kemari bersama kakak-ku yang menyebalkan ini?" Tanya Gladys.
Chayra terkekeh, "Kebetulan kami berteman juga."
"Huh! Mana mungkin. Kak Yoga itu gak pernah punya temen cewek tau. Dia tuh makhluk paling dingin sejagat raya," bisik Gladys.
"Heh, kakak denger tau!" Kata Yoga sambil menjitak kepala Gladys.
"Auuu, sakit! Selalu saja main jitak! Huh!" Ucap Gladys cemberut.
"Maafkan adikku ini yah, Chayra." Ucap Yoga.
"Huh. Awas hati hati loh Chayra. Sebelumnya dia gak pernah bawa temen cewek kesini. Bisa-bisa kamu malah di jadiin calon istri, bukan temen biasa. Dan kak Yoga itu belum jinak. Camkan itu Chayra," kata Gladys sambil terkekeh geli melihat ekspresi kakak-nya.
Chayra ikut terkekeh melihat tingkah laku adik kakak ini.
"Awas kamu Gladys!" Yoga mengejar Gladys yang berlari sambil menyeret Chayra.
"Chayra sahabatku. Jadi Chayra sekarang aku culik." Teriak Gladys sambil terus cekikikan.
"Yoga, Gladys. Sudah. Kasian Chayra kalian ajak lari-larian."
Mereka pun berhenti dan mulai mengatur napas.
Hmm, sejak masuk SMA Chayra dan Gladys memang sudah menjadi teman dekat. Mereka sering berdiskusi mengenai masalah pelajaran. Mereka merupakan siswi terpandai di sekolahnya.
Dan sedikitnya Chayra maupun Gladys mengetahui masalah pribadi mereka masing-masing. Chayra juga tidak menyangka bahwa dia bisa bertemu langsung dengan seseorang yang selalu Gladys sebut-sebut sebagai malaikatnya itu. Ya, siapa lagi kalo bukan Yoga.
***
Selama liburan berlangsung, Chayra sangat sering berkunjung ke rumah Yoga untuk sekedar berbincang dengan Gladys ataupun Yoga, atau juga berkunjung untuk memasak di dapur bersama Gladys dan Nina. Sejak kecil Chayra memang hobi memasak. Tapi di rumahnya tidak ada yang bisa menjadi rekannya untuk memasak. Pembantu di rumahnya pun selalu melarangnya memasak.
"Aku gak nyangka kamu ahli dalam bidang masak memasak. Padahal kamu terlahir dari keluarga berada," ucap Yoga pada Chayra.
"Memasak itu bukan masalah dari keluarga berada atau bukan. Aku seorang wanita, jadi sepantasnya aku bisa memasak. Suatu saat aku akan menjadi seorang istri, seorang ibu." Ucap Chayra.
Yoga tersenyum menanggapi ucapan Chayra. Wanita ini benar-benar sempurna. Bahkan lebih dari kata itu.
***

3

June112016
BAB 3 PERTEMUAN "Saya tidak mau tau, kau harus segera menghabisi gadis di poto itu. Bunuh dia secara perlahan," desis pria berkacamata hitam itu sambil melempar poto seorang gadis cantik berhijab biru muda ke atas meja. Sejenak Yoga menatap wajah dalam foto itu. Wanita yang cantik dan manis. Bola mata hitam itu begitu menenangkan. Ntah kenapa darahnya berdesir ketika menatap senyum lembut dari wajah... [Baca selengkapnya]

2

June112016
PSIKOPAT Darah dan kematian adalah hal yang tak pernah lepas dari hidupku. Kasih sayang dan amarah juga hal yang melengkapi hatiku. Aku hidup dalam air mata dan kekejaman. Tapi aku lahir atas dasar kasih sayang dan pembelaan. *** Tubuh renta itu tergeletak di atas meja kayu yang telah usang. Pakaian kantor yang tadinya rapi kini sudah lusuh dan kotor. Sosok itu sepertinya masih nggan untuk membuka... [Baca selengkapnya]

1

June112016
BAB 1 KECEWA Penderitaan itu membuatku jatuh pada jurang gelap tak tersentuh. Hingga kau hadir membawa secercah harapan dalam hatiku. Kau membuatku mengerti dan mengetahui bahwa masih banyak cinta yang ada di bumi. Hanya saja aku tak cukup bijak menyadarinya. Aku tenggelam dalam napsuku. Aku terkunci dalam amarahku. Amarah yang menggebu. Yang datang atas dasar kekesalan dan kemarahan tak teruapkan. Ragaku hidup. Namun... [Baca selengkapnya]
 
Kembali ke Atas